Wisata Keramat Pulau Tukung, Dimana Ya?

Semua orang yang tinggal di Balikpapan pasti mengenal pantai Melawai. Pantai yang indah terhampar di sepanjang jalan kota Balikpapan, diujung pantai inilah terdapat pulau.

Berikut ini adalah salah satu tempat yang banyak dikenal oleh kalangan muda dan dewasa di kota Balikpapan.

  • PULAU TUKUNG

Pulau tukung sangat unik, bukan hanya lokasinya yang berada dekat dengan pelabuhan utama Balikpapan bernama Semayang. Tetapi karena di atas pulau karang ini terdapat sebuah makam kuno, Makam siapa kah itu? Kenapa dimakamkan di sana?

Ketika dicari tau tentang makam itu, ternyata berkaitan dengan rumah berwarna hijau yang terletak disebrang pelabuhan Semayang, tepat di lereng bukit terjal. Di atas pintu masuk bangunan terdapat tulisan “Makam Keramat Pulau Tukung” didalam rumah tersebut terdapat makam yang ditutupi dengan kain kuning. Makam tersebut berukuran kecil sekitar 1 x 0,5 m. Makam siapakah ini? tidak ada petunjuk apapun di ruangan ini mengenai makam tersebut, didinding ruangan hanya ada foto-foto para ulama penyebar islam, serta kitab keagamaan tidak ada yang menyinggung perihal makam tersebut.

 

 

 

Penjaga makam tersebut memang dikenal sangat menjaga perihal riwatat makam tersebut, Ternyata beliau pernah diwawancarai oleh wartawan, namun isi artikel tersebut tidak sesuai dengan keterangannya.

Dikisahkan makam tersebut merupakan milik seorang ulama terkenal keturunan habib, yang merupakan cucu rasulullah SAW bernama syarifah fatimah mariam al idrus yang datang dari banten. Sayangnya tidak diketahui silsilah dari beliau, namun kabarnya masih bersaudara dengan pemilik makam di tanjung periuk yaitu mbah periuk atau Al imam Al arif billah sayyidina Al habib hasan bin muhammad Al haddad Husain ass Syafi’i sunnira.

Tercatat beberapa penjaga makam, yaitu : Almarhum habib Gasim, Haji Ungkuk, dan Haji Abdullah. Saat ini yang menjaga makan tersebut adalah Hajjah Mastiah istri dari Almarhum Haji Abdullah. Lalu apa hubungannya makam tersebut?

 

 

 

Makam yang ada di dalam rumah bercat hijau adalah yang asli. Di masa Penjajahan Balanda, makam tersebut di pindahkan ke pulau Tukung karena lokasinya akan digunakan untuk pengembangan pelabuhan, namun makam tersebut tidak mau di pindahkan, tiba-tiba saja makam yang ada di darat bersinar yang menandakan makam tersebut sudah kembali lagi ke tempat semula. Jadi yang ada di pulau Tukung sebenarnya kosong, namun bagaimana pun juga pernah digunakan untuk mensemayamkan Ulama sehingga karomahnya masih ada.

Menurut cerita yang disampaikan dari penjaga-penjaga sebelumnya, makam tersebut memang sudah lama dikeramatkan oleh warga Balikpapan. Oleh sebab itu Belanda ingin menghancurkan makam tersebut namun upayanya selalu gagal. Pernah seorang prajurit Belanda akan menggeranat makam tersebut, namun tiba-tiba prajurit tersebut meninggal. Oleh sebab itu makam tersebut dibiarkan ditempatnya hingga sekarang.

Syarifah Fatimah Mariam Al Idrus adalah penyebar agama Islam di Balikpapan pada abad ke 18. Saat itu Balikpapan masih merupakan pemukiman-pemukiman di sekitar pantai teluk Balikpapan. Konon pelabuhan yang terdapat pulau tukung adalah titik awal dari pemukiman saat itu. Para pedagang dari Banjarmasin, Samarinda, dan kota-kota lain bersandar untuk berdagang dan mengisi logistik kapal mereka, termasuk air. Hingga saat ini mata air tempat para awak kapal mengisi persediaan air mereka masih ada, tak jauh dari makam. Penduduk masih menggunakan air dari sumber tersebut untuk berbagai keperluan, meskipun terdapat pengumuman dari pihak Pertamnina bahwa air tersebut dinyatakan tidak sehat.

Para pedagang yang bersandar di Balikpapan menemukan cairan hitam kental yang mudah terbakar di sepanjang pantai, lalu mengangkutnya sebagai bahan bakar. Belanda mengetahuinya sebagi minyak bumi, lalu melakukan perjanjian explorasi minyak bumi dengan kerajaan Kutai. Pengeboran pertama di sumur Mathilda, terletak di jalan Yos Sudarso (lebih dikenal sebagai jalan minyak) sekarang. Perkembangan dari usaha pertambangan dan industri di area ini kemudian mendesak pemukiman penduduk ke arah yang sekarang disebut sebagai Kampung Baru.

Hingga akhir hayatnya, bunda Syarifah Fatimah Mariam Al Idrus tidak menikah sehingga tidak memiliki keturunan.

Makam keramat ini mulai banyak dikunjungi masyarakat sekitar tahun 1970-an untuk berdoa meminta restu dan rezeki. Berkembang keperjayaan jika ada juga muda-mudi yang ingin mencari pasangan hidup. Mereka harus menaburkan bunga mawar di makam karena bagi yang percaya jika bunga mawar tersebut bergerak kekiri dan kekanan maka pengunjung akan mendapat rezeki atau jodoh yang baik. Namun, jika bunga mawar tidak bergerak sama sekali maka diyakini pengunjung tersebut akan mendapat kesialan.

Menarik sekali ya cerita mengenai makam keramat pulau tukung ini, Berminat untuk berkunjung kesana nggak sahabat?

(Visited 7 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*